Wednesday, June 27, 2007

tak TKI berkalang Tanah

Derita TKI Ceriyati yang lari dari majikannya di Malaysia patut menjadi renungan (disini). Pertanyaan kenapa seseorang mau mengadu nasib menjadi tenaga kerja migran, saya kira masih relevan. Pertanyaan ini sebagian terjawab dengan melihat kaitan antara penguasaan lahan pertanian yang terkonsentrasi akibat proses industrialisasi khususnya di wilayah pedesaan. Dalam hal ini menarik jika melihat analisis Lenin tentang struktur agraria di Rusia ketika itu (disini). Perubahan lanskap sosial terkait dengan penguasaan lahan pertanian menyebabkan polarisasi kelas antara borjuis desa (gabungan antara petani kaya dan menengah) dan kelas pekerja pertanian yang berasal dari petani miskin. Petani miskin yang tidak punya tanah akhirnya hanya punya sedikit pilihan, bekerja pada petani kaya atau migrasi. Pilihan migrasi ini pada jaman Lenin sepertinya kurang dikenal. Namun, film Far and Away yang menceritakan keadaan imigran Irlandia di Dunia Baru Amerika menunjukkan kondisi yang mirip (sebab dan tujuan migrasi) antara imigran Irlandia dan para TKI kita di luar negeri.
Tidak ada yang bisa melarang seseorang memperbaiki kehidupannya bahkan pergi ke luar negeri. Disisi lain negara berkewajiban mengamankan rakyatnya dari penderitaan dan kesengsaraan. Untuk itu persoalan penguasaan lahan yang semakin sempit misalnya di Jawa Tengah penurunan pengusaan lahan pertanian 0.15% pertahun harus ditangani secara baik jika tidak dapat berpotensi mengganggu pasokan pangan yang dapat menjalar ke krisis lainnya. Solusi untuk saya saat ini adalah redistribusi lahan, bahwa kepemilikan lahan perlu pembatasan yang menjamin akses petani miskin (terutama perempuan) kepada tanah. Harapannya akses tanah yang cukup bisa mengurangi keinginan menjadi TKI. Satu lagi prasyaratnya pemerintah mengembalikan perhatian kepada sektor pertanian.

4 comments:

Rajawali Muda said...

the fact that rural people in Indonesia migrate, in my opinion could not be explained only by the problem of land shortage. The issue of land redistribution is based on the fact that small farmers tend to have better efficiency than large farmers, due to marshallian efficiency problem.the migration, however,apparently allign with the new economic model of migration. Stark shows that reasons to migrate are not being dominate by wages discrepancies only, but also the need to deal with risk. Rural economies are always at risk, and lack of technological changes in productions, and shortage of supply of labor and land, the risk became inexorable. therefore the need to migrate is associated with the need to smooth long run revenue generated from farming. being a babysitter in singapore would generate more certain revenue, than becoming a farmer, with the risk of failed cultivation of their corps. come to think of it, better than becoming a teaching assistant..hehehehe..

embun said...

Saya cenderung setuju dengan rajawali muda. Akses ke tanah di pedesaan, tidak serta merta akan menciptakan kondisi kondusif untuk sektor pertanian di pedesaan. Jangan lupa, besarnya jumlah penduduk di pedesaan (yang tercermin dari masih tingginya angka kelahiran/fertilitas dibanding di perkotaan) akan membuat rasio tanah per pekerja akan relatif semakin kecil. Hal ini pada gilirannya akan menjadi faktor pendorong mereka menjadi migran.
Selain faktor besarnya jumlah penduduk, lambatnya proses akumulasi di pedesaan/pertanian jelas membuat sektor ini tidak "menarik" sehingga lagi-lagi sektor perkotaan yang berciri-ciri: upah lebih tinggi, fasilitas lebih baik, dsb akan mendorong mereka bermigrasi ke kota.
Tentang migrasi keluar (TKI), faktor upah di negara lain relatif terhadap upah yang ditawarkan di dalam negeri, ditambah kesempatan kerja yang semakin kompetitif di tanah air sangat mungkin menjadi faktor mendorong berikutnya mereka untuk pergi ke negara tetangga.

pelantjong maja said...

mengenai argumen populasi, saya kurang sependapat. populasi sebagai faktor penekan tidak sepenuhnya benar dan harus dilihat kasus per kasus. untuk membongkar mitos ini silahkan dibaca disini.

u/ rajawalimuda: faktor resiko hidup di pedesaan dan bergantung pada pertanian, saya setuju. tapi pertanyaan saya, seandainya pemerintah bisa menciptakan sistem yang mengurangi resiko di pedesaan, apakah migrasi akan berkurang? jika ya, kenapa kita tidak lakukan itu?

Rajawali Muda said...

u/ pelantjong madja, menurut saya tergantung dengan sistem yang anda maksud,karena resiko di pedesaan bercabang, resiko bencana alam, resiko gagal panen, resiko gagal hutang, dll. yang saling interdependent, andai saja formula yang anda maksud bisa mengatasi smua resiko secara simultan, saya kira migrasi akan berkurang sedikit demi sedikit, karena insentif untuk migrate juga berkurang