Saturday, June 10, 2006

football capitalism

Saya tentu berharap judul tulisan ini akan mengundang banyak respon, artinya saya berhasil. Demam piala dunia ternyata bukan milik negara yang berhasil mengirim kontingen ke event dunia ini tetapi sudah sampai di pelosok belahan dunia termasuk negara berkembang.

Ada teman bilang: lalu apa masalahnya? saya bilang tidak ada karena tidak dosa orang suka bola; begitu juga jika ada yang menganggap demam piala dunia seperti angin lalu. Teman yang lain bilang: kalau piala dunia bisa menuntaskan kemiskinan, baru saya mau menonton. Nah lo? menarik juga ide teman saya ini, apa mungkin piala dunia bisa menuntaskan kemiskinan?
sementara kita pending dulu pertanyaan ini untuk bahan renungan saja. Kembali ke judul 'provokatif' diatas, sejauh mana kapitalisme berhasil menggiring bola dan juga dunia? seperti bisnis lainnya sepak bola adalah bisnis tentu saja sangat menjanjikan. liat saja gaji pemainnya dan siapa saja para investor dibelakang klub-lub ternama. ambil contoh chealsea yang dibiayai oleh milioner dari Rusia.

Ini baru sebagian kecil dari cerita besar global capitalism. jika kita mau memperhitungkan berapa uang yang terserap oleh demam piala dunia ini, dari mulai pernak pernik seperti kaos, souvenir dan barang-barang lainnya sesungguhnya timbul pertanyaan: dari event dunia seperti ini siapa yang paling di untungkan? tentu saja jawabannya pebisnis antara lain hotel, transportasi dan supporting sector lainnya yang ikut kecipratan. lalu dari pihak2 yang mendapat keuntungan dalam piala dunia, berapa %-kah komposisi mereka secara total dalam sistem ekonomi? semakin kecil komposisi mereka dalam economy sementara keuntungan yang diperoleh mewakili komposisi mayoritas, maka tidak salah jika saya mengklaim sepakbola sudah dikapitalisasi.

4 comments:

Berly said...

Pertanyaannya perlu diubah menjadi bagaimana menjadikan kapitalisasi football menguntungkan Indonesia.Beberapa pemain legendaris dunia seperti Pele dahulunya sangat miskin. Penjualan merchandise tim Brasil tentunya mendatangkan devisa.

Kalau Indonesia punya liga yg aktif dan berkualitas, maka bisa jual hak siar ke stasiun2 TV dunia. Kalau Indonesia punya beberapa pemain tangguh yg masuk tim2 top dunia maka bakal ada pemasukkan remittance dan pajak. Plus tambah promosi nama Indonesia di dunia dan akses untuk pemain2 berikutnya (tingkatkan skill pemain dan tim lokal etc).

Karena keduanya tidak ada maka secara nominal yg ada hanyalah capital outflow untuk bayar pembelian hak siar TV. Tentunya perlu di balance dengan net foreign pemasukan dari sponsor dan peningkatan utilitas rakyat Indonesia karena menonton pertandingan bermutu.

berly said...

Pertanyaannya perlu diubah menjadi bagaimana menjadikan kapitalisasi football menguntungkan Indonesia.Beberapa pemain legendaris dunia seperti Pele dahulunya sangat miskin. Penjualan merchandise tim Brasil tentunya mendatangkan devisa.

Kalau Indonesia punya liga yg aktif dan berkualitas, maka bisa jual hak siar ke stasiun2 TV dunia. Kalau Indonesia punya beberapa pemain tangguh yg masuk tim2 top dunia maka bakal ada pemasukkan remittance dan pajak. Plus tambah promosi nama Indonesia di dunia dan akses untuk pemain2 berikutnya (tingkatkan skill pemain dan tim lokal etc).

Karena keduanya tidak ada maka secara nominal yg ada hanyalah capital outflow untuk bayar pembelian hak siar TV. Tentunya perlu di balance dengan net foreign pemasukan dari sponsor dan peningkatan utilitas rakyat Indonesia karena menonton pertandingan bermutu.

embun said...

setuju dengan berly. Khusus untuk Indonesia, banyak juga industri kecil menengah yang diuntungkan oleh piala dunia (atau sepak bola internasional). Merchandise (non-original) dan sekolah sepak bola misalnya jelas menjamur dan mendatangkan penghasilan bagi para pedagang kecil dan menengah. Untuk Jakarta saja, omset dan pendapatan kafe-kafe yang mengadakan acara nonton bareng sudah pasti meningkat (meski tidak besar, tapi cukup signifikan saya yakin). Industri televisi pun demikian. Jadi, masalahnya di mana?

Menurut saya, masalahnya ada di sikap masyarakat atau pemerintah Indonesia sendiri. Bisakah kalangan pebisnis menangkap peluang tsb? Adakah pemerintah misalnya menggunakan momen piala dunia untuk pengembangan sektor olahraga Indonesia yang sedang terpuruk?

Jangan seperti kebanyakan pejabat atau tokoh di Indonesia yang cuma melulu menyalahkan kapitalisasi event atau globalisasi.

berly said...

Check an article at Kompas about Maradona effect on economy(click here)