Showing posts with label methodology. Show all posts
Showing posts with label methodology. Show all posts

Sunday, March 25, 2007

EconMethod: Assumptions

by Berly

The post in kaFE depok have been sporadic and on various topics. Not that it is bad; after all there are so many things to analyzed and so little time. But there is nothing wrong with series of posts on a connected topic to dig deeper and understand more. Therefore, I inaugurate the first instalment of our first series.

Economic methodology has not received wide attention in the academic discussion in Indonesia. At most department of economics in Indonesia there will be one class on economic history that implicitly discuss methodology and one class on general research methodology. There are very few, if any, undergrad doing their thesis on economic methodology.

With so many developmental and economic problems in Indonesia it is understandable that our Econ PhD students abroad are more occupied with mastering the use of sophisticated economic and econometrics tools rather than substantiate the arcane technical and philosophical assumptions behind. You know what they say, those who can’t do economics, study methodology.

But I would argue that it is impossible to do proper economics without understanding sufficient economic methodology (which also includes history of methodology and how they developed) and applicability to Indonesia. All-out liberalization would not worked as well in Indonesia as in US/EU since they already have strong legal protection at place (and taken as granted). Studying unemployment in Indonesia will need modified analysis of self selection bias since Heckman estimation was developed with unemployment insurance in mind. Poverty analysis in Indonesia could not use only income as indicators since many Indonesian farmers consumed what they produce. The list can go on.

Now a bit on qualifications. Aside from long time interest since undergrad time, I took courses on Economic History and Methodology at University of Amsterdam (UvA) at master level. Courses? Yeap, not only one course. And also not two courses. But three courses. One of them was taught by a John Davis that held two PhDs (in Economics and Philosophy) and the editor of Journal of Economic Methodology.

Occasionally, Indonesian economists quoted Milton Friedman paper entitled “The Methodology of Positive Economics” in defending unreal assumptions in economics. I don’t know if they have read Friedman’s entire paper, but I know I did. I was assigned to it and presented my analysis in the class.

Here is the infamous quote, “Truly important and significant hypothesis will be found to have assumptions that are wildly inaccurate descriptive representations of reality, and, in general, the more significant the theory the more unrealistic the assumptions…To be important, therefore, a hypothesis must be descriptively false in its assumptions…”

Friedman stressed that the validity of economics is not in the assumption but on prediction. A billiard player may not be know the of law of physics but he played as if he knows it since that is the only way to put the balls out and win the game. A person may not be totally selfish and materialistic but economist can predict the action by assuming as if he is.

There have been numerous critiques to this position. Alan Musgrave, a philosophy professor, said that Friedman over-generalized on assumption (assuming too much about assumption?). There are three kinds of assumption according to him and mixing them up is a mistake.

The neglibility assumptions are factors that only affect the analytical result in very minor ways thus can be assumed away. Example in physics includes air friction in a calm day that only slightly affects speed of falling item. The domain assumption put boundaries where theories are valid inside it but not outside. The celebrated example are the search for Theory of Everything since quantum mechanics and relativity, each valid in their domain, propose radically different descriptions of the universe. Heuristic assumption is use at early stage of theory presentation to be drop later.

The example in economics is as follow. Micro economics textbook usually start with an economy without government. Does it mean that whether government exist or not will have no detectable differences to phenomena investigated? No, so it is not neglibility assumption. Does it mean that the theory only valid when there is no government intervention? Domain assumption may play a role here. But mostly it is used as heuristic assumption which will be relaxed shortly.

Stiglitz (1994) has a stronger word, “I have shown that slight perturbations in the standard information assumptions drastically change all the major results of standard neoclassical economics. The theory was simply not robust at all.” I think he is referring to domain assumption meaning most of the neo classical theory that preceded recognition of asymmetric information problem was only valid if there were none.

The other strong argument against Friedman’s over-simplication is the heart of his argument. The model with self interest, super-rational and time-consistent agent don't always predict well, in some case it way off the fact. Yes, the neo classical model can explain some of the action, but the accuracy sure can be improve.

Aside from knowing the direction of action we also need to know the magnitude of the effect. Recent development in behavioral economics and experimental method prove to better predict (and explain) human behavior by incorporating additional (and more realistic) assumption that human also care (and willing to incur cost in taking action that benefit) on other people not only self, process not only result, non-material instead of only material (more in the next installment).

Please keep the above argument in mind next time an economist used Friedman’s line as shield.




Sunday, January 28, 2007

Interpretasi Hasil Analisa Kuantitatif dari Ilmu Ekonomi:

Kesombongan, Percaya Diri, Kejujuran atau Strategi?

Oleh: Dhaniel Ilyas

Kalau kita memulainya dari sudut pandang objek ilmu, terlihat bahwa di dalam ilmu sosial terdapat sebuah permasalahan abadi: ketidakmungkinan mengeneralisasi secara sempurna tingkah laku manusia dari sudut pandang yang paling mikro maupun (interaksi) makro. Ilmu ekonomi sebagai salah satu bagian dari ilmu sosial pun tidak lepas dari hal ini. Kecanggihan dari teknologi memungkinkan kita untuk menggunakan metode-metode analisa yang lebih ‘keras’ dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu matematik. Ekonometri merupakan salah satu dari cabang ilmu yang mengkhususkan dirinya pada analisa kuantitatif dari data-data ekonomi yang seiring dengan berjalannya waktu semakin mengkristal manjadi sebuah cabang ilmu yang mapan. Ekonometri dalam kesejarahannya bisa dibilang sebagai cabang ilmu yang masih ‘muda’ namun memegang peranan yang cukup penting dalam perkembangan ilmu ekonomi.

Hampir sebagian besar dari analisis ekonomi baik yang di jurnal akademis maupun analisis kebijakan riil menggunakan metode ekonometri. Analisis dengan menggunakan ‘common sense’ dari teori-teori ekonomi sering dianggap kurang kuat sebagai dasar analisis karena tidak mempunyai dasar empirik yang kuat. Ketersediaan data membuat para ekonom mampu menampilkan analisis-analisis ‘canggih’ yang didasarkan kepada data-data riil dengan menggunakan metode-metode ekonometrik. Menariknya, hasil-hasil analisis yang didasarkan kepada metode-metode ekonometrik dan kuantitatif lainnya ini dalam proses dan penyajiannya dipengaruhi oleh sudut pandang sang peneliti.

Setelah melalui proses analisis dari tahap pengambilan data, membuat proksi data, pembentukan model sampai menjalankan program software ekonometri dan analisis hasil, ditemukanlah model yang dianggap paling efisien secara teoritis. Seringkali setelah kita melihat output yang dihasilkan dari model-model ekonometri tersebut hipotesa awal kita tidak terpenuhi secara sempurna. Terdapat sebagian peneliti yang mencari ‘akal’ agar hasil dari permodelan ekonometri mereka sesuai dengan insting ‘common sense’ yang mereka percayai. Cara-cara mereka ada yang masih di dalam koridor teori-teori ekonometri dan ada pula yang sudah di luar itu dengan memodifikasi sedemikian rupa data yang mereka punya. Ada yang melakukan modifikasi data yang masih di dalam koridor yang dianggap layak dan ada pula yang berusaha menerapkan ‘jalan-jalan’ keras untuk men-fit-kan ‘kepercayaan’ mereka akan sebuah hipotesis tertentu. Ini menimbulkan pertanyaan yang mendasar dari analisis kuantitatif yang kita lakukan ini. Sejauh manakah validasi dari angka-angka tersebut?

Di sisi lain jika seorang peneliti beruntung menemukan sebuah model yang dengan mudah mendukung hipotesis yang mereka percayai, timbulah kepercayaan diri yang tinggi akan analisa yang dihasilkan dan alih-alih ada yang menjadi sombong akan ‘kehebatan’ hasil-hasilnya. Sombong disini berbeda dengan percaya diri. Yang sombong adalah yang merasa memiliki model ekonometri yang paling hebat dalam menghasilkan angka-angka proyeksi maupun simulasi. Hasil-hasilnya seakan-akan menjadi ‘dewa’ dalam pandangan mereka. Dalam pengamatan saya terdapat beberapa ekonom yang dengan menggebu-gebu mempromosikan hasil perhitungannya bahwa variabel ekonomi yang mereka teliti akan mempunyai kepastian dalam mengikuti sebuah ‘tingkah laku dan besaran proyeksi’ tertentu. Seringkali apa yang mereka katakan terbukti bertolak belakang dengan kenyataan yang ada dan orang-orang menjadi lupa akan apa-apa yang mereka katakan dan perdebatkan di publik. Kesalahan seorang dokter dalam menganalisa gejala-gejala yang ada pada seorang pasien akan menghasilkan efek fatal yang dengan mudah terlihat dimana kesalahan seorang ekonom seakan-akan terlupakan dan termaafkan begitu saja.

Kita tidak boleh lupa bahwa hasil-hasil analisa kuantitatif itu hanyalah merupakan ‘kecenderungan’ saja dan merupakan alat untuk membantu pengambilan keputusan. Dalam praktek kita harus mampu menggunakan informasi ini dengan bijaksana. Kepercayaan akan hasil analisis kuantitatif yang baik dapat saja digunakan untuk men-drive ekspektasi para pelaku ekonomi sesuai dengan arah yang kita inginkan dan begitu pula jika kita menghasilkan hasil buruk, hal itu dapat dijadikan ‘signal’ agar kita menjadi berhati-hati. Seyogyanya kita perlu kerendahan hati dalam membicarakan hasil-hasil kuantitatif ini di hadapan publik. Inilah yang dimaksud pula dari sebagian artian ilmu ekonometri sebagai ‘arts’. Kita memerlukan strategi yang matang dalam menampilkan hasil-hasil analisa kuantitatif yang kita lakukan. Seperti seorang ekonom yang mengambil keputusan untuk tidak menampilkan proyeksi yang overconfidence maupun yang underpotential. Hal ini juga bisa terkait ke dalam konstelasi perpolitikan yang merespons angka-angka tersebut sesuai dengan kepentingan masing-masing. Disini terlihat bahwa analisis kuantitatif dalam prakteknya amat terpengaruh dengan sudut pandang sang peneliti dan bahkan interest politik yang berkepentingan. Kita dapat memplesetkan judul buku Gunnar Myrdal yang terkenal menjadi ‘the political element in the development of applied econometrics’.

Seringkali terjadi perdebatan yang tidak kunjung usai di antara para ekonom akan ‘kepercayaan’ mereka masing-masing. Jadi dimana letak tanggung jawab intelektual dan kejujuran hati nurani kita dalam hal ini? Apa yang harus kita lakukan? Secara pribadi dan sebagai seseorang yang mempelajari ilmu ekonometri itu sendiri menurut saya titik awalnya adalah dengan mendudukkan diri kita sebagai seorang ekonom (dan atau ahli ekonometri) yang jujur dan rendah hati. Pre-hipotesis dalam meneliti adalah perlu dan jika hasil yang kita hasilkan tidak ‘make sense’, usaha pencarian hasil model ekonometri yang sesuai dengan ‘common sense’ dan insting kita harus tetap di dalam koridor kaidah-kaidah teori ekonometri yang baku. Jika tidak bisa juga tercapai, kita harus mau jujur mengakui bahwa pre-hipotesis kita tidak memiliki bukti yang kuat dan mengikutkan kemungkinan adanya penjelasan teori ekonomi lain yang lebih baik. Juga harus disadari sepenuh-penuhnya bahwa hasil-hasil ekonometri itu hanyalah ‘kecenderungan’ dan tidak lepas dari tataran konsep ‘probabilita’. Seringkali pula penggunaan metode ekonometri yang hebat dengan teknik algoritma canggih dan sebagainya seakan-akan mengukuhkan hasil yang ‘hebat’. Ini dapat membawa kita kepada kesalahan dalam pengambilan kesimpulan! Ingatlah bahwa ekonometri hanyalah ‘alat bantu’ untuk pengambilan keputusan ataupun analisis ekonomi secara keseluruhan dengan mempertimbangkan pula aspek-aspek lainnya.

Marilah kita menjadi seorang ekonom (dan ahli ekonometri) yang jujur, rendah hati dan bijaksana dalam mempresentasikan hasil-hasil analisis kita dengan tetap berlapang dada akan kemungkinan kesalahannya dan adanya penjelasan yang lebih baik.”